Agustus
2024. Kami, mahasiswa Universitas Nusa Putra, menginjakkan kaki di Desa Gunung
Tanjung — sebuah desa kecil yang bersembunyi di antara hamparan hijau
perbukitan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Udara paginya dingin, jalannya
menanjak, dan sambutan warganya hangat luar biasa. Satu bulan penuh kami
tinggal, belajar, dan mengabdi di sini.
Bagi kami,
KKN bukan sekadar syarat kelulusan. Ia adalah ruang di mana nilai-nilai Trilogi
Nusa Putra — Amor Deus, Amor Parentium, dan
Amor Concervis — diuji, dihayati, dan dibuktikan dalam tindakan
nyata.
"Trilogi Nusa Putra bukan slogan di dinding kampus — di
sinilah ia menjadi nyata."
Amor Deus — Mengabdi dengan Keimanan
Nilai
pertama dari Trilogi Nusa Putra adalah Amor
Deus — cinta kepada Tuhan yang terwujud dalam ketulusan niat dan
kerendahan hati dalam setiap langkah pengabdian. Di Desa Gunung Tanjung, kami
memaknai nilai ini melalui pendampingan kegiatan keagamaan bersama warga.
Setiap sore
menjelang Maghrib, kami mendampingi anak-anak di Taman Pendidikan Al-Qur'an
(TPA) setempat. Melihat semangat anak-anak desa dalam mengeja huruf-huruf
hijaiyah, dengan keterbatasan fasilitas namun kepenuhan hati, menjadi pelajaran
keimanan yang jauh lebih dalam dari ruang kuliah mana pun.
Kami juga
turut serta dalam kegiatan pengajian rutin dan gotong royong membersihkan
mushola desa. Bukan karena diwajibkan, melainkan karena kami percaya bahwa
pengabdian yang tulus lahir dari hati yang bersih.
Amor Parentium — Cinta kepada Keluarga dan Sesama
Nilai kedua,
Amor Parentium — cinta kepada
orang tua dan sesama — kami wujudkan lewat dua program utama yang langsung
menyentuh kehidupan keluarga di desa.
Program Kelas Parenting dihadiri oleh puluhan ibu dari
berbagai RT. Materi yang kami sampaikan sederhana namun krusial: pentingnya
stimulasi tumbuh kembang anak usia dini, pola makan bergizi dari bahan lokal,
dan cara mendampingi belajar anak di rumah tanpa gadget. Antusiasme ibu-ibu
Gunung Tanjung mengajarkan kami bahwa cinta kepada anak bukan soal materi,
melainkan soal perhatian.
Program
kedua adalah Bimbingan Belajar Gratis
untuk anak-anak SD. Setiap sore hari, posko KKN kami berubah menjadi ruang
belajar yang penuh tawa dan pertanyaan. Kami membantu mereka mengerjakan PR,
membaca, berhitung, hingga mengenalkan literasi digital secara sederhana.
Kehangatan
keluarga-keluarga di Gunung Tanjung — yang rela berbagi nasi tumpeng, menjemput
kami saat hujan, dan menganggap kami seperti anak sendiri — menjadi cerminan
paling murni dari Amor Parentium.
Amor Concervis — Cinta kepada Alam dan Lingkungan
Nilai
ketiga, Amor Concervis — cinta
kepada sesama makhluk hidup dan lingkungan — menjadi nilai yang paling terasa
relevan di desa yang dikelilingi perbukitan ini.
Kami
menyelenggarakan Gerakan Penghijauan
di lahan kritis desa dengan menanam ratusan bibit pohon bambu dan sengon
bersama warga. Ini bukan sekadar kegiatan seremonial — ini adalah investasi
jangka panjang bagi ketahanan tanah dan air di kawasan perbukitan yang rawan
longsor.
Kami juga
menyelenggarakan Edukasi Pengelolaan Sampah
Organik untuk warga. Bersama kelompok ibu PKK, kami membuat demo
pembuatan kompos dari sampah dapur dan mensosialisasikan pemilahan sampah
dengan cara yang mudah dan menyenangkan.
Gunung
Tanjung mengajarkan kami bahwa menjaga alam bukan kewajiban ekologis semata —
ini adalah tanggung jawab moral yang berakar dari rasa cinta.
Ringkasan Kegiatan KKN
|
Nilai Trilogi |
Program Kegiatan |
Sasaran |
|
Amor
Deus |
Pendampingan TPA &
pengajian rutin, gotong royong mushola |
Anak-anak & warga desa |
|
Amor
Parentium |
Kelas parenting &
bimbingan belajar gratis anak SD |
Ibu-ibu & anak SD |
|
Amor
Concervis |
Penanaman pohon &
edukasi kompos / pemilahan sampah |
Seluruh warga desa |
Refleksi: Ketika Nilai Menjadi Tindakan
Satu bulan
di Gunung Tanjung terasa seperti satu semester kuliah kehidupan. Kami datang
dengan membawa ilmu, namun pulang membawa sesuatu yang lebih berharga —
kearifan dari masyarakat yang hidup sederhana namun penuh makna.
Trilogi Nusa
Putra — Amor Deus, Amor Parentium, Amor
Concervis — bukan sekadar kata-kata yang terukir di gedung
kampus. Di desa ini, ia berdetak bersama kehidupan nyata: dalam doa anak-anak
TPA, dalam tawa ibu-ibu di kelas parenting, dan dalam bau tanah segar ketika
kami menanam pohon bersama warga.
Terima
kasih, Gunung Tanjung. Terima kasih telah mengajarkan kami bahwa pengabdian
sejati adalah ketika kita hadir — sepenuh hati — bagi sesama.
