Jumat, 29 Mei 2026

Mengabdi di Gunung Tanjung: Cinta, Alam, dan Sesama

Agustus 2024. Kami, mahasiswa Universitas Nusa Putra, menginjakkan kaki di Desa Gunung Tanjung — sebuah desa kecil yang bersembunyi di antara hamparan hijau perbukitan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Udara paginya dingin, jalannya menanjak, dan sambutan warganya hangat luar biasa. Satu bulan penuh kami tinggal, belajar, dan mengabdi di sini.

Bagi kami, KKN bukan sekadar syarat kelulusan. Ia adalah ruang di mana nilai-nilai Trilogi Nusa Putra — Amor Deus, Amor Parentium, dan Amor Concervis — diuji, dihayati, dan dibuktikan dalam tindakan nyata.

"Trilogi Nusa Putra bukan slogan di dinding kampus — di sinilah ia menjadi nyata."

Amor Deus — Mengabdi dengan Keimanan

Nilai pertama dari Trilogi Nusa Putra adalah Amor Deus — cinta kepada Tuhan yang terwujud dalam ketulusan niat dan kerendahan hati dalam setiap langkah pengabdian. Di Desa Gunung Tanjung, kami memaknai nilai ini melalui pendampingan kegiatan keagamaan bersama warga.

Setiap sore menjelang Maghrib, kami mendampingi anak-anak di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) setempat. Melihat semangat anak-anak desa dalam mengeja huruf-huruf hijaiyah, dengan keterbatasan fasilitas namun kepenuhan hati, menjadi pelajaran keimanan yang jauh lebih dalam dari ruang kuliah mana pun.

Kami juga turut serta dalam kegiatan pengajian rutin dan gotong royong membersihkan mushola desa. Bukan karena diwajibkan, melainkan karena kami percaya bahwa pengabdian yang tulus lahir dari hati yang bersih.

Amor Parentium — Cinta kepada Keluarga dan Sesama

Nilai kedua, Amor Parentium — cinta kepada orang tua dan sesama — kami wujudkan lewat dua program utama yang langsung menyentuh kehidupan keluarga di desa.

Program Kelas Parenting dihadiri oleh puluhan ibu dari berbagai RT. Materi yang kami sampaikan sederhana namun krusial: pentingnya stimulasi tumbuh kembang anak usia dini, pola makan bergizi dari bahan lokal, dan cara mendampingi belajar anak di rumah tanpa gadget. Antusiasme ibu-ibu Gunung Tanjung mengajarkan kami bahwa cinta kepada anak bukan soal materi, melainkan soal perhatian.

Program kedua adalah Bimbingan Belajar Gratis untuk anak-anak SD. Setiap sore hari, posko KKN kami berubah menjadi ruang belajar yang penuh tawa dan pertanyaan. Kami membantu mereka mengerjakan PR, membaca, berhitung, hingga mengenalkan literasi digital secara sederhana.

Kehangatan keluarga-keluarga di Gunung Tanjung — yang rela berbagi nasi tumpeng, menjemput kami saat hujan, dan menganggap kami seperti anak sendiri — menjadi cerminan paling murni dari Amor Parentium.

Amor Concervis — Cinta kepada Alam dan Lingkungan

Nilai ketiga, Amor Concervis — cinta kepada sesama makhluk hidup dan lingkungan — menjadi nilai yang paling terasa relevan di desa yang dikelilingi perbukitan ini.

Kami menyelenggarakan Gerakan Penghijauan di lahan kritis desa dengan menanam ratusan bibit pohon bambu dan sengon bersama warga. Ini bukan sekadar kegiatan seremonial — ini adalah investasi jangka panjang bagi ketahanan tanah dan air di kawasan perbukitan yang rawan longsor.

Kami juga menyelenggarakan Edukasi Pengelolaan Sampah Organik untuk warga. Bersama kelompok ibu PKK, kami membuat demo pembuatan kompos dari sampah dapur dan mensosialisasikan pemilahan sampah dengan cara yang mudah dan menyenangkan.

Gunung Tanjung mengajarkan kami bahwa menjaga alam bukan kewajiban ekologis semata — ini adalah tanggung jawab moral yang berakar dari rasa cinta.

Ringkasan Kegiatan KKN

 

Nilai Trilogi

Program Kegiatan

Sasaran

Amor Deus

Pendampingan TPA & pengajian rutin, gotong royong mushola

Anak-anak & warga desa

Amor Parentium

Kelas parenting & bimbingan belajar gratis anak SD

Ibu-ibu & anak SD

Amor Concervis

Penanaman pohon & edukasi kompos / pemilahan sampah

Seluruh warga desa

 

Refleksi: Ketika Nilai Menjadi Tindakan

Satu bulan di Gunung Tanjung terasa seperti satu semester kuliah kehidupan. Kami datang dengan membawa ilmu, namun pulang membawa sesuatu yang lebih berharga — kearifan dari masyarakat yang hidup sederhana namun penuh makna.

Trilogi Nusa Putra — Amor Deus, Amor Parentium, Amor Concervis — bukan sekadar kata-kata yang terukir di gedung kampus. Di desa ini, ia berdetak bersama kehidupan nyata: dalam doa anak-anak TPA, dalam tawa ibu-ibu di kelas parenting, dan dalam bau tanah segar ketika kami menanam pohon bersama warga.

Terima kasih, Gunung Tanjung. Terima kasih telah mengajarkan kami bahwa pengabdian sejati adalah ketika kita hadir — sepenuh hati — bagi sesama.


Mengabdi di Gunung Tanjung: Cinta, Alam, dan Sesama

Agustus 2024. Kami, mahasiswa Universitas Nusa Putra, menginjakkan kaki di Desa Gunung Tanjung — sebuah desa kecil yang bersembunyi di antar...